Makna Lagu Lir ilir

Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir 
Tak ijo royo royo 
Tak sengguh temanten anyar 
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi 
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodot tiro 
Dodot tiro dodot tiro kumitir bedahing pinggir 
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore 
Mumpung padang rembulane 
Mumpung jembar kalangane 
Yo surako surak hiyo 

Oleh: Hardono (Putra Gunung Lawu)


Makna lagu Ilir-ilir Lagu ini sangat populer dan umurnya sudah lima ratusan tahun lebih tetapi semakin hari semakin disenangi. Apalagi di desa-desa lagu ini sangat popular bagi anak-anak, dinyanyikan ketika bermain di bulan purnama. Kalau di pondok pesantren lagu ini seolah-olah menjadi lagu wajibnya bagi para santri. Sekarang lagu ini sering dinyanyikan dalam alunan campur sari bahkan oleh penyanyi penyanyi papan atas. Sehingga lagu ilir-ilir populer sepanjang masa. Lagu ilir-ilir yang konon dikarang oleh Sunan Kagijogo tapi ada juga yang meyakini bahwa lagu ini merupakan ciptaan Sunan Giri atau Sunan Ampel. Terlepas siapa pengarangnya yang penting makna lagu ini bisa menjadi media perjuangan moral, mental, spiritual bangsa demi kemajuan Negara Indonesia. Menurut saya lagu ini merupakan amanat bagi bangsa Indonesia, mulai saat lagu ini dikarang sampai saat sekarang, lagu ini syarat dengan petuah dan mengandung makna furtulogi bagi bangsa Indonesia.


Lagu ini saya pandang dari segi furtologi mengandung makna sebagai berikut : 


Renungan 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia


(Renungan 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia)
Oleh: Hardono (Putra Gunung Lawu)


Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku. 
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. 
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah air ku.
Marilah kita berseru Indonesia bersatu.
Hiduplah tanahku  hiduplah negeriku  bangsaku rakyatku semuanya. 
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya  untuk Indonesia Raya.
Indonesia Raya merdeka merdeka Tanahku negriku yang kucinta.
 Indonesia Raya merdeka merdeka.
Hiduplah Indonesia Raya.
 (W.R. Supratman)


Untuk pertama kalinya, lagu kebangsaan tersebut di atas oleh penciptanya (Wage Rudolf Supartman) telah berhasil dikumandangkan pada Konggres Pemuda tahun 1928. Jika ditelaah secara mendalam akan hakekat maknanya, tampak bahwa beliau sangat memahami dan menjiwai tentang sejarah dan karakter bangsa Indonesia. Visi dan misi kebangsaannya penuh dengan nilai-nilai kejuangan, spirit kebangsaan, amanat, dan cita-cita bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan serta mengisi jembatan emas kemerdekaan hingga saat ini. Makna inti sebenarnya dimaksudkan untuk membangkitkan kita sebagai patriot sejati untuk peduli kepada bangsa dan negara agar menjadi bangsa yang beradab, berbudaya, bermartabat, dan maju serta memiliki prestasi yang tinggi. Namun demikian, dalam realita saat ini secara kasat mata bisa dilihat ternyata masih banyak ditemui orang-orang dalam segala profesi yang hanya numpang hidup untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya tanpa memperdulikan nasib anak bangsa lainnya. Orang-orang inilah yang disebut benalu atau parasit bangsa yang tidak memikirkan negeri tapi justru malah menghisap dan menggerogoti kekayaan negara serta menciptakan kerusakan bagi bangsa.  
Pertanyaannya sekarang adalah “Sebagai apa dan dimana posisi diri kita masing-masing di kancah kehidupan berbangsa dan bernegara pada saat ini?”
Apakah sebagai patriot atau nasionalis, atau justru sebaliknya hanya sekadar numpang hidup, benalu, atau bahkan sebagai perusak bangsa? Untuk mengupasnya berikut ini saya coba ungkapkan makna bait per bait lagu Indonesia Raya. Berkaitan dengan fenomena, dinamika situasi dan kondisi kontemporer sehingga nantinya bisa dijawab sesuai atau belum pemikiran, sikap, dan perilaku bangsa Indonesia pada umumnya dengan hakekat makna lagu kebangsaan tersebut.